Monitoring Perlindungan Kehati Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai Batu Lumbang 2024

Monitoring Perlindungan Kehati Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai Batu Lumbang 2024
Monitoring Keanekaragaman Hayati Flora


Keanekaragaman hayati flora merupakan salah satu elemen kunci dalam ekosistem suatu kawasan. Keberadaan flora dan vegetasi di habitat berfungsi secara dasar sebagai produsen utama oksigen dan metabolit lainnya, serta memiliki fungsi pendukung lain seperti keindahan, arsitektur, sosial budaya, dan ekonomi. Fungsi-fungsi ini mendukung peran penting flora dalam mengoptimalkan lingkungan (Kusmana, 2015).
Hasil pengamatan di Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai Batu Lumbang, Pemogan, Denpasar, mencatat adanya 3.980 individu dari 6 spesies flora. Meskipun terdapat enam spesies mangrove, dominasi beberapa spesies seperti Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata menunjukkan bahwa struktur komunitas mangrove cenderung tidak merata. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kondisi lingkungan yang lebih sesuai untuk spesies-spesies tersebut atau adanya kompetisi antar spesies. Dominasi beberapa spesies tertentu membuat nilai indeks keanekaragaman tidak terlalu tinggi. Indeks keanekaragaman hayati Shannon-Wiener (H') untuk flora di kawasan ini tercatat sebesar 0,728.
Indeks keanekaragaman yang relatif rendah ini mengindikasikan bahwa komunitas mangrove di kawasan ini didominasi oleh beberapa spesies tertentu, seperti Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata. Kondisi lingkungan di Tahura Ngurah Rai Batu Lumbang, seperti salinitas, tingkat genangan air, dan kualitas tanah, mungkin lebih mendukung pertumbuhan dan regenerasi spesies-spesies ini dibandingkan dengan spesies mangrove lainnya. Selain itu, dominasi spesies tertentu bisa diakibatkan oleh kompetisi antar spesies, di mana spesies dominan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik, seperti toleransi terhadap salinitas tinggi, kemampuan reproduksi lebih efisien, atau sistem akar yang lebih kuat untuk menahan abrasi tanah.
Adanya penanaman kembali atau rehabilitasi mangrove yang berfokus pada spesies tertentu juga dapat memengaruhi struktur komunitas ini. Meskipun dominasi spesies tertentu menyebabkan indeks keanekaragaman tidak terlalu tinggi, penting untuk dicatat bahwa keberadaan spesies mangrove ini tetap sangat penting bagi ekosistem pesisir. Mereka menyediakan habitat bagi berbagai fauna, melindungi garis pantai dari erosi, dan berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon. Oleh karena itu, pengelolaan yang berkelanjutan dan pemantauan terus-menerus diperlukan untuk memastikan keberagaman dan kelestarian ekosistem mangrove di kawasan ini.
Tabel 3.1. Hasil pengamatan keanekaragaman flora di Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai Batu Lumbang, Pemogan, Denpasar
| No | Nama Ilmiah | Nama Lokal | Status Perlindungan | Jumlah Individu | |
| IUCN | CITES | ||||
| 1 | Rhizopora mucronata | Bakau Kurap/Hitam | LC | - | 1977 |
| 2 | Brugueira hainesii | Bakau Mata Buaya | Critically Endangered | - | 5 |
| 3 | Bruguiera exaristata | Bakau Buah Rusuk | LC | - | 4 |
| 4 | Bruguiera parviflora | Lenggadai | LC | - | 7 |
| 5 | Bruguiera sexangular | Bakau Tumu | LC | - | 4 |
| 6 | Rhizopora apiculata | Bakau Minyak | LC | - | 1983 |
| Jumlah Individu | 3980 | ||||
| Jumlah Spesies | 6 | ||||
| Indeks Keanekaragaman | 0,728 | ||||
Di Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai Batu Lumbang, terdapat enam spesies mangrove dengan status perlindungan yang bervariasi menurut IUCN. Mayoritas spesies seperti Rhizophora mucronata, Bruguiera exaristata, Bruguiera parviflora, Bruguiera sexangular, dan Rhizophora apiculata berstatus Least Concern (LC), yang menunjukkan bahwa spesies-spesies ini masih memiliki populasi yang relatif stabil dan tidak berada dalam ancaman kepunahan yang signifikan. Namun, spesies Bruguiera hainesii (Bakau Mata Buaya) memiliki status Critically Endangered di IUCN, menandakan bahwa spesies ini berada pada risiko sangat tinggi terhadap kepunahan di alam liar. Keberadaan hanya lima individu Bruguiera hainesii di kawasan ini menunjukkan betapa rentannya spesies ini dan pentingnya upaya konservasi yang lebih intensif untuk melindungi dan memperbanyak populasinya.
Monitoring Keanekaragaman Hayati Fauna di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan
Gambar 3.1 Diagram Keanekaragaman Fauna di Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang
Kelompok yang paling banyak ditemukan di Kawasan Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang dari kelas aves (6 jenis). Sedangkan yang paling sedikit yaitu dari kelas Gobiidae dengan penemuan hanya 1 jenis. Kelompok yang paling banyak ditemukan berasal dari kelas aves dengan 6 jenis. Di Kawasan Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang, kelompok yang paling banyak ditemukan adalah burung dari kelas Aves, dengan 6 jenis yang teridentifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa habitat mangrove mendukung keberagaman burung dengan menyediakan sumber makanan, tempat bersarang, dan perlindungan. Sebaliknya, kelas Gobiidae, yang hanya terdeteksi satu jenis, menunjukkan bahwa keberagaman spesies ikan ini mungkin lebih rendah dalam habitat mangrove atau membutuhkan kondisi lingkungan yang berbeda. Variasi ini mencerminkan perbedaan kebutuhan ekologis antara kelompok spesies yang berbeda dalam ekosistem mangrove.
Tabel 3.2. Hasil pengamatan keanekaragaman fauna di Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang
| No | Nama Ilmiah | Nama lokal | Status Perlindungan | Jumlah Individu | ||
| IUCN | CITES | |||||
| Aves | ||||||
| 1 | Anhinga melanogaster | Burung Pecuk Ular | Near Threatened | - | 33 | |
| 2 | Ardea cinerea | Burung Cangak Abu | LC | - | 22 | |
| 3 | Ardeola speciosa | Burung Blekok Sawah | LC | - | 20 | |
| 4 | Egretta garzetta | Burung Kuntul | LC | - | 42 | |
| 5 | Microcarbo melanoleucos | Burung Pecuk Belang | LC | - | 26 | |
| 6 | Larus fuscus | Burung Camar Baltik | LC | - | 19 | |
| Gobiidae | ||||||
| 1 | Periopthalmus sp. | Ikan Tembakul | - | - | 23 | |
| Crustacea | ||||||
| 1 | Scylla | Kepiting Bakau | - | - | 121 | |
| 2 | Clibanarius sp. | Kelomang Bakau | - | - | 30 | |
| Herpetofauna | ||||||
| 1 | Boiga dendrophila | Ular bakau | - | - | 15 | |
| 2 | Fejervarya cancrivora | Kodok Sawah | LC | - | 20 | |
| 3 | Iguana Iguana | Iguana Hijau | LC | Appendix II | 16 | |
| Jumlah Individu | 387 | |||||
| Jumlah Spesies | 12 | |||||
| Indeks Keanekaragaman | 2,237 | |||||
Hasil pengamatan di area konservasi ini mencatat keberadaan 387 individu dari 12 spesies yang tersebar dalam beberapa kategori, yaitu aves (burung), gobiidae (ikan tembakul), crustacea (kepiting dan kelomang), serta herpetofauna (ular, kodok, dan iguana). Indeks keanekaragaman hayati Shannon-Wiener (H') tercatat sebesar 2,237 yang menunjukkan keanekaragaman sedang.
Dalam kategori aves, spesies yang mendominasi adalah Egretta garzetta (Burung Kuntul) dengan 42 individu, diikuti Ardea cinerea (Burung Cangak Abu) dengan 30 individu. Mayoritas spesies ini memiliki status Least Concern (LC) menurut IUCN, menunjukkan populasi stabil tanpa ancaman besar. Kategori crustacea menunjukkan jumlah individu besar, terutama Scylla (Kepiting Bakau) dengan 121 individu, yang menunjukkan kelimpahan populasi. Spesies ini, bersama Cibanarius sp. (Kelomang Bakau), juga berstatus Least Concern (LC), yang berarti tidak menghadapi risiko kepunahan signifikan. Dalam kategori herpetofauna, Iguana iguana (Iguana Hijau) memiliki status perlindungan Appendix II CITES, menunjukkan tidak terancam punah tetapi rentan jika perdagangan tidak diatur. Boiga dendrophila (Ular Bakau) dan Fejervarya cancrivora (Kodok Sawah) juga tercatat dengan status Least Concern.
Secara keseluruhan, data menunjukkan area konservasi memiliki keanekaragaman spesies yang cukup tinggi dengan dominasi pada beberapa spesies. Indeks keanekaragaman moderat mencerminkan distribusi individu yang cukup merata, meski ada dominasi tertentu. Keberadaan spesies dengan status perlindungan, seperti Iguana iguana, menekankan pentingnya pengelolaan berkelanjutan untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Tabel 3.3 Nilai Indeks H’ Tiga Tahun Terakhir
| Tahun | Indeks H' | Jumlah Individu |
| 2022 | 1,04 | 2203 |
| 2023 | 1,138 | 3286 |
| 2024* | 1,161 | 4367 |
*sampai dengan bulan Juni 2024
Meskipun terjadi peningkatan jumlah individu setiap tahun, nilai indeks keanekaragaman hayati relatif rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh dominasi spesies mangrove tertentu di area ini, yang menyebabkan distribusi individu antar spesies menjadi kurang merata. Dominasi oleh spesies mangrove seperti Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata cenderung mengurangi variasi dalam komposisi komunitas, sehingga mengakibatkan nilai indeks keanekaragaman yang tidak terlalu tinggi meskipun jumlah total individu terus bertambah.
Peningkatan jumlah individu juga mencerminkan keberhasilan dalam upaya konservasi, tetapi untuk meningkatkan indeks keanekaragaman hayati, diperlukan usaha lebih lanjut untuk memastikan bahwa spesies lain di area ini juga berkembang dengan baik, sehingga tercipta keseimbangan yang lebih baik dalam komunitas flora dan fauna.
Program Pembuatan Kotak Rumpun Mangrove
Monitoring Keanekaragaman Hayati Flora


Hasil pengamatan keanekaragaman flora di Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang, khususnya dalam program Pembuatan Kotak Rumpun Mangrove, mencatat adanya 5000 individu dari 3 spesies mangrove. Keanekaragaman flora di area ini diukur menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), yang menunjukkan nilai sebesar 1,055. Indeks yang berada pada kategori sedang ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat dominasi oleh beberapa spesies tertentu, masih ada tingkat variasi yang cukup dalam komunitas mangrove di area tersebut. Kondisi ini mencerminkan bahwa ekosistem mangrove di kawasan ini memiliki keragaman yang relatif stabil, meskipun masih didominasi oleh spesies tertentu. Namun, perlu diingat bahwa menjaga dan meningkatkan keanekaragaman hayati tetap penting untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan lingkungan.
Tabel 3.4 Hasil pengamatan keanekaragaman flora
| No | Nama Ilmiah | Nama lokal | Status Perlindungan | Jumlah Individu | |||||
| IUCN | CITES | ||||||||
| 1 | Rhizopora mucronata | Bakau Kurap/Hitam | - | - | 2000 | ||||
| 2 | Rhizopora apiculata | Bakau Minyak | - | - | 2000 | ||||
| 3 | Sonneratia alba | Bogem | - | - | 1000 | ||||
| Jumlah Individu | 5000 | ||||||||
| Jumlah Spesies | 3 | ||||||||
| Indeks Keanekaragaman | 1,055 | ||||||||
3.2.2 Monitoring Keanekaragaman Hayati Fauna
Pengamatan keanekaragaman fauna di Kawasan Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang ditemukan 5 spesies. Terdiri dari 3 kelas, diantaranya aves 2 jenis, crustacea 2 jenis, dan gobiidae 1 jenis (Gambar 3.2).
Gambar 3.2. Keanekaragaman Jenis Fauna Area Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang
Berdasarkan diagram keanekaragaman fauna di Kawasan Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang, terlihat bahwa kelompok fauna yang paling banyak ditemukan berasal dari kelas Aves (burung) dengan jumlah 2 jenis. Kelompok ini didominasi oleh burung dari berbagai spesies, yang menunjukkan bahwa habitat mangrove di kawasan ini sangat mendukung keberadaan burung, mungkin karena tersedianya sumber makanan yang melimpah, tempat bersarang yang aman, dan perlindungan dari predator.
Sebaliknya, kelompok dengan jumlah jenis paling sedikit adalah dari kelas Gobiidae, dengan hanya 1 jenis yang ditemukan. Hal ini mengindikasikan bahwa keberagaman ikan gobiidae di habitat mangrove ini relatif rendah, yang mungkin disebabkan oleh kebutuhan ekologis yang berbeda atau kondisi lingkungan yang kurang mendukung spesies tersebut.
Kelompok Crustacea juga menunjukkan keberagaman yang cukup tinggi dengan 2 jenis yang ditemukan, menunjukkan bahwa ekosistem mangrove ini juga mendukung keberadaan fauna dari kelas Crustacea yang mampu memanfaatkan lingkungan mangrove sebagai habitat mereka.
Secara keseluruhan, variasi jumlah jenis antara kelas yang berbeda mencerminkan perbedaan kebutuhan ekologis dan peran spesifik masing-masing kelompok dalam ekosistem mangrove.
Tabel 3.5 Hasil pengamatan keanekaragaman fauna
| No | Nama Ilmiah | Nama lokal | Status Perlindungan | Jumlah Individu | ||
| IUCN | CITES | |||||
| Aves | ||||||
| 1 | Egretta garzetta | Burung Kuntul | LC | - | 95 | |
| 2 | Microcarbo melanoleucos | Burung Pecuk Belang | LC | - | 33 | |
| Gobiidae | ||||||
| 1 | Periopthalmus sp. | Ikan Tembakul | - | - | 93 | |
| Crustacea | ||||||
| 1 | Scylla | Kepiting Bakau | - | - | 174 | |
| 2 | Clibanarius sp. | Kelomang Bakau | - | - | 245 | |
| Jumlah Individu | 640 | |||||
| Jumlah Spesies | 5 | |||||
| Indeks Keanekaragaman | 1,438 | |||||
Tabel yang ditunjukkan menggambarkan hasil pengamatan terhadap keanekaragaman fauna di Kawasan Konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai, Batu Lumbang. Berdasarkan tabel, terdapat total 640 individu dari 5 spesies yang teridentifikasi, dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener sebesar 1,438. Nilai ini menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman fauna di kawasan ini termasuk dalam kategori sedang.
Kelompok Crustacea, yang terdiri dari spesies kepiting bakau (Scylla sp.) dan kelomang bakau (Cibanarius sp.), mendominasi dengan jumlah individu yang cukup besar, yaitu masing-masing 174 dan 245 individu. Dominasi ini menunjukkan bahwa kawasan mangrove menyediakan habitat yang optimal bagi spesies dari kelompok Crustacea.
Untuk kelompok Aves, ditemukan dua spesies burung yaitu burung kuntul (Egretta garzetta) dan burung pecuk belang (Microcarbo melanoleucos), dengan jumlah individu masing-masing 95 dan 33. Sementara itu, kelompok Gobiidae hanya diwakili oleh satu spesies, yaitu ikan tembakul (Periophthalmus sp.), dengan jumlah individu sebanyak 93.
Kesimpulannya, meskipun indeks keanekaragaman berada di kategori sedang, dominasi individu pada kelompok Crustacea menunjukkan ketergantungan ekosistem mangrove pada kelompok fauna ini. Namun, masih adanya representasi dari kelompok Aves dan Gobiidae memperlihatkan bahwa kawasan ini tetap mendukung keanekaragaman yang cukup bervariasi.