Monitoring Perlindungan Kehati Area Konservasi Penyu Turtle Conservation Education Center (TCEC) Serangan 2024

Program Konservasi Penyu Turtle Conservation Education Center Serangan 

        Monitoring Kehati Flora

Keanekaragaman hayati flora merupakan salah satu elemen kunci dalam ekosistem suatu kawasan. Keberadaan flora dan vegetasi di habitat berfungsi secara dasar sebagai produsen utama oksigen dan metabolit lainnya, serta memiliki fungsi pendukung lain seperti keindahan, arsitektur, sosial budaya, dan ekonomi. Fungsi-fungsi ini mendukung peran penting flora dalam mengoptimalkan lingkungan (Kusmana, 2015).

Hasil pengamatan di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan, program konservasi, yang dikelola oleh TCEC, mencatat adanya 168 individu dari 13 spesies flora. Salah satu jenis pohon yang paling dominan di area ini adalah Adenium obesum atau Jepun Jepang. Indeks keanekaragaman hayati Shannon-Wiener (H') untuk flora di kawasan ini tercatat sebesar 2,409 yang menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang. Indeks keanekaragaman hayati sebesar 2,409 mencerminkan bahwa meskipun ada berbagai spesies yang hadir, distribusi jumlah individu di antara spesies tersebut cukup merata. Ini adalah indikasi bahwa ekosistem di area konservasi tersebut cukup beragam dan mampu mendukung kehidupan berbagai spesies flora. Keanekaragaman yang sedang ini penting untuk menjaga stabilitas ekosistem, memberikan habitat yang seimbang, dan mendukung keberlanjutan konservasi, terutama di lingkungan berbasis masyarakat seperti di Serangan. Dominasi spesies seperti Jepun Jepang juga mengindikasikan adanya spesies tertentu yang mampu beradaptasi dengan baik di kondisi lingkungan tersebut, sehingga berperan penting dalam struktur vegetasi di area konservasi.

Tabel 3.1 Hasil pengamatan keanekaragaman flora di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan

NoNama IlmiahNama LokalStatus PerlindunganJumlah Individu
IUCNCITES
1Dendrobium phalaenopsisAnggrek-Appendix II17
2CannaBunga Tasbih--10
3Adenium obesuJepun JempiringLCApendix II30
4Adonidia merrilliPalem Putri--2
5Cocos nuciferaKelapaLC-5
6Curcuma Longa LinnKunyit--23
7Leucaena leucocephalaPetai Cina--15
8Manilkara kaukiSawo Kecik--13
9Muntingia calaburaKersen--15
10Plumeria albaKamboja Merah--6
11Plumeria rubraKamboja Putih--12
12Terminalia catappaKetapangLC-9
13Zamia furfuraceaZamiaNear ThreatenedAppendix II11
Jumlah Individu168
Jumlah Spesies13
Indeks Keanekaragaman2,409

Di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan, khususnya program konservasi terdapat beberapa spesies flora yang dilindungi, menunjukkan pentingnya kawasan ini dalam konservasi keanekaragaman hayati. Spesies yang terdaftar dalam status perlindungan meliputi Adenium obesum (Jepun Jepang), yang memiliki status Least Concern (LC) menurut IUCN dan termasuk dalam Appendix II CITES, menandakan bahwa spesies ini tidak terancam punah namun perdagangan internasionalnya perlu dikendalikan. Selain itu, Zamia furfuracea (Zamia) juga terdaftar sebagai Near Threatened (NT) oleh IUCN dan berada dalam Appendix II CITES, menandakan bahwa spesies ini mendekati status terancam jika tidak ada upaya perlindungan yang memadai. Spesies lain yang dilindungi adalah Dendrobium phalaenopsis (Anggrek), yang termasuk dalam Appendix II CITES, mengindikasikan bahwa spesies ini harus dipantau untuk mencegah eksploitasi yang berlebihan. Keberadaan spesies-spesies ini di area konservasi menunjukkan pentingnya pengelolaan kawasan yang baik untuk menjaga kelestarian spesies yang dilindungi.

      Monitoring Keanekaragaman Hayati Fauna di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan

Pengamatan keanekaragaman fauna di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan, TCECditemukan 7 spesies. Terdiri dari 3 kelas, diantaranya crustacea 1 jenis, pisces 2 jenis, dan herpetofauna 4 jenis (Gambar 3.1).

Kelompok herpetofauna adalah yang paling banyak ditemukan di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan, TCEC, dengan 4 jenis teridentifikasi. Sebaliknya, kelas crustacea memiliki keanekaragaman paling sedikit dengan hanya 1 jenis yang ditemukan. Keberadaan herpetofauna yang lebih banyak mencerminkan habitat yang mendukung keberlangsungan hidup mereka, sementara kondisi lingkungan mungkin kurang mendukung bagi crustacea. Faktor lingkungan seperti ketersediaan air dan vegetasi yang memadai kemungkinan besar menjadi penentu distribusi spesies di area ini.

Tabel 3.2 Hasil pengamatan keanekaragaman fauna di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan, TCEC

NoNama IlmiahNama lokalStatus PerlindunganJumlah Individu
IUCNCITES 
Crustacea
1BrachyuraKepiting pantai--19
Pisces
1Amphiprion ocellarisNemoLC-3
2Paracanthurus hepatusIkan Blue TangLC-1
Herpetofauna
1Chelonia mydasPenyu HijauEndangeredAppendix I38
2Eretmochelys imbricataPenyu SisikCritically EndangeredAppendix I7
3Lepidochelys olivaceaPenyu LekangVulnerableAppendix I54
4Trachemys scripta elegansKura-kura brazilLC-27
Jumlah Individu149
Jumlah Spesies7
Indeks Keanekaragaman1,544

Hasil pengamatan di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan mencatat adanya 149 individu dari 7 spesies fauna dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H') sebesar 1,544, yang mencerminkan tingkat keanekaragaman yang sedang. Di antara spesies yang diamati, kelompok crustacea diwakili oleh Brachyura (Kepiting pantai) dengan 19 individu, sementara kelompok pisces terdiri dari Amphiprion ocellaris (Ikan Nemo) dan Paracanthurus hepatus (Ikan Blue Tang), keduanya berstatus Least Concern menurut IUCN, yang menunjukkan populasi mereka masih stabil.

Kelompok herpetofauna menjadi sorotan dengan keberadaan beberapa spesies penyu yang sangat dilindungi, yaitu Chelonia mydas (Penyu Hijau), Eretmochelys imbricata (Penyu Sisik), dan Lepidochelys olivacea (Penyu Lekang). Spesies ini tercantum dalam Appendix I CITES, yang menandakan bahwa mereka sangat dilindungi dari perdagangan internasional, dan memiliki status konservasi yang beragam di IUCN: Penyu Hijau berstatus Endangered (Terancam Punah), Penyu Sisik berstatus Critically Endangered (Kritis Terancam Punah), dan Penyu Lekang berstatus Vulnerable (Rentan). Selain itu, Trachemys scripta elegans (Kura-kura Brazil) juga teridentifikasi dengan status Least Concern di IUCN.

Keberadaan spesies penyu yang terancam punah ini menunjukkan pentingnya kawasan konservasi ini sebagai habitat yang kritis untuk spesies-spesies yang memerlukan perlindungan intensif. Meskipun jumlah spesies tidak terlalu banyak, distribusi individu yang cukup merata di antara mereka menjadi indikator penting dari stabilitas dan kesehatan ekosistem di area konservasi ini.

 Indeks Keanekaragaman Hayati

Tabel 3.3  Nilai Indeks H’ Lima Tahun Terakhir

TahunIndeks H'Jumlah Individu
20202,508154
20212,589169
20222,600251
20232,687302
2024*2,694317

*sampai dengan bulan Juni 2024

Data dalam tabel menunjukkan tren peningkatan indeks keanekaragaman hayati Shannon-Wiener (H') dan jumlah individu di area konservasi dari tahun 2020 hingga 2024. Secara khusus, dari tahun 2023 ke 2024, indeks keanekaragaman meningkat dari 2,687 menjadi 2,694, sementara jumlah individu naik dari 302 menjadi 317.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa program konservasi yang dilakukan di area tersebut efektif dalam meningkatkan jumlah spesies dan individu yang ada. Kenaikan indeks keanekaragaman hayati mengindikasikan bahwa distribusi spesies di area ini menjadi lebih merata, dengan berbagai spesies yang mampu bertahan dan berkembang biak dengan baik. Kenaikan jumlah individu yang signifikan juga mencerminkan keberhasilan dalam menjaga lingkungan yang mendukung kehidupan fauna dan flora, yang bisa jadi hasil dari upaya konservasi dan pengelolaan habitat yang lebih baik, termasuk perlindungan terhadap spesies yang dilindungi dan perbaikan kondisi ekosistem. Secara keseluruhan, data ini menggambarkan keberlanjutan dari upaya konservasi di area tersebut, dengan tren yang positif dalam menjaga dan meningkatkan keanekaragaman hayati.

Program Pemanfaatan CEPU (Cangkang Telur Penyu) Sebagai Bahan Pupuk Organik

Monitoring Keanekaragaman Hayati Flora

Hasil pengamatan keanekaragaman flora di Area Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Serangan, khususnya dalam program Pemanfaatan CEPU (Cangkang Telur Penyu) Sebagai Bahan Pupuk Organik, mencatat adanya 50 individu dari 5 spesies tanaman obat keluarga (TOGA). Keanekaragaman flora di area ini diukur menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), yang menunjukkan nilai sebesar 1,609. Nilai indeks ini mencerminkan tingkat keanekaragaman yang sedang, yang menandakan bahwa meskipun area tersebut memiliki beberapa spesies, distribusi individu di antara spesies tersebut cukup merata. Program Pemanfaatan CEPU (Cangkang Telur Penyu) Sebagai Bahan Pupuk Organik memainkan peran penting dalam meningkatkan keanekaragaman flora, khususnya spesies tanaman obat keluarga, yang tidak hanya memberikan manfaat ekologi tetapi juga manfaat kesehatan bagi lingkungan sekitar. Keberadaan beragam spesies ini berkontribusi terhadap stabilitas ekosistem dan meningkatkan kapasitas area konservasi untuk mendukung kehidupan yang berkelanjutan.

Tabel 3.5 Hasil pengamatan keanekaragaman flora

NoNama IlmiahNama lokalStatus PerlindunganJumlah Individu
IUCNCITES
1Foeniculum vulgareAdas--10
2Accorus calamus L.Jangu--10
3Orthosiphon aristatusKumis kucing--10
4Zingiber officinale var. rubrumJahe merah--10
5Cymbopogon citratusSerai--10
Jumlah Individu50
Jumlah Spesies5
Indeks Keanekaragaman1,609

Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H') yang diperoleh dari hasil pengamatan ini adalah sebesar 1,609, yang mencerminkan tingkat keanekaragaman yang sedang. Indeks ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah spesies terbatas, distribusi jumlah individu di antara spesies tersebut cukup merata, sehingga menunjukkan stabilitas ekosistem yang dikelola dengan baik. Selain itu, tidak ada spesies yang terdaftar dalam status perlindungan IUCN atau CITES, yang menunjukkan bahwa tanaman yang ada di area ini tidak termasuk dalam kategori spesies yang terancam atau dilindungi secara internasional. Hal ini menggambarkan keberhasilan program dalam mengelola dan mempertahankan keanekaragaman hayati, khususnya untuk tanaman obat keluarga, di area konservasi tersebut.